Profil MTI

logoMTI

MASYAKAT TRANSPORTASI INDONESIA

KILASAN SEJARAH

 

Kilas balik

Transportasi merupakan salah satu pilar utama pendukung percepatan pembangunan nasional. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan kepulauan yang tersebar di sepanjang garis katulistiwa membuat kelancaran mobilitas barang, jasa, dan manusia merupakan suatu kebutuhan mutlak yang hanya dapat diwujudkan melalui jasa transportasi. Jadi, transportasi memegang peran amat sentral dalam kelancaran arus barang maupun mobilitas manusia. Kecuali itu, transportasi juga menjadi bagian integral dalam upaya besar menjalin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional, mengintensifkan interaksi budaya antar anak bangsa, membangun kohesi sosial, meningkatkan daya guna sumber daya nasional, serta berperan aktif dalam mewujudkan (pemerataan) kesejahteraan nasional.

Berangkat dari kesadaran akan pentingnya transportasi sebagai salah satu pendukung utama keberhasilan pembangunan nasional itulah gagasan tentang pembentukan sebuah organisasi profesi di bidang transportasi muncul ke permukaan. Melalui organisasi profesi tersebut diharapkan akan muncul gagasan-gagasan kreatif untuk pengembangan transportasi di Indonesia dan sekaligus menjadi ruang publik yang dapat menampung berbagai permasalahan maupun gagasan untuk pengembangan transportasi itu sendiri.

Gagasan pendirian organisasi tersebut sebetulnya sudah mulai muncul pada awal dekade 1980-an. Beberapa orang dari kalangan pemerintah (Departemen Perhubungan), kalangan akademisi (UI dan ITB), serta kalangan BUMN (Perumka dan PT Garuda) bertemu untuk membicarakan rencana pembentukan organisasi profesi di bidang transportasi. Tapi beberapa kendala menyurutkan pembentukan organisasi ini, sehingga gagasan tersebut tinggal gagasan yang belum dapat terealisasikan.

Pada era 1990-an gagasan ini mencuat kembali, bahkan sudah mengerucut pada usulan nama yakni, Himpunan Masyarakat Transportasi Indonesia. Tapi ide ini pun surut oleh sang waktu. Baru pada September 1994, gagasan pembentukan organisasi ini muncul kembali ke permukaan dengan energi baru. Ada banyak faktor yang mendorong tumbuhnya semangat baru tersebut. Salah satunya, menurut Ir. Alvinsyah, MSc (dosen UI) adalah faktor Jepang yang ingin mengembangkan masyarakat transportasi di kawasan Asia. Alvin ragu, kalau tidak ada faktor Jepang mungkin belum dimulai pembentukannya.

Harapannya ada sekretariat tetap. Tapi masalahnya adalah siapa yang membiayai sekretariatan tersebut? Harapannya adalah dari kegiatan-kegiatan tersebut yang menghasilkan uang.

Beberapa lembaga pemerintah seperti Departemen Perhubungan, BPPT, dan BAPPENAS, serta unsur perguruan tinggi (UI & ITB), unsur BUMN dan swasta (PT Garuda, Sempati) mencoba mengkonkretkan gagasan tersebut dengan membentuk sebuah tim yang beranggotakan 13 orang. Tim ini kemudian disebut sebagai Tim Tiga Belas yang terdiri dari perwakilan dari pemerintah, perguruan tinggi dan BUMN/swasta.

Tim ini secara rutin mengadakan pertemuan mingguan untuk mempersiapkan pertemuan pleno guna melontarkan ide pembentukan organisasi profesi di bidang transportasi di Indonesia. Kebetulan di saat yang sama muncul keinginan kuat dari beberapa negara di kawasan Asia untuk membentuk East Asia Transport Society yang merupakan kumpulan transport society dari tiap negara di Asia yang disponsori oleh Japan Transport Society (JTS). Di Indonesia sendiri nama yang diusulkan waktu itu adalah Indonesia Transport Society (Masyarakat Transportasi Indonesia/MTI).

 

Awal Mula

Pleno pertama yang diprakarsai oleh Tim Tiga Belas diselenggarakan di Gedung PT Garuda Indonesia Jakarta pada 04 April 1995. Pertemuan yang diketuai Bapak Muchtarudin Siregar (Sekjen Departemen Perhubungan) itu merumuskan pembentukan wadah organisasi profesi di bidang transportasi. Peserta pleno tediri dari perwakilan dari Departemen Perhubungan, BPPT, BAPPENAS, Departemen Pekerjaan Umum, Bappeda DKI Jakarta, UI, ITB, UGM, ITS, Unhas, serta unsur dari BUMN dan Swasta. Pleno pertama menghasilkan rumusan perlunya disempurnakan konsep dan bentuk organisasi profesi. Pleno juga menugaskan agar Tim Tiga Belas melaksanakan dan mempersiapkan rapat pleno kedua.

Pleno kedua juga diadakan di gedung yang sama pada tanggal 24 Mei 1995 dengan mengundang peserta yang sama dengan tambahan peserta dari perwakilan PT IPTN, PT PAL Surabaya, dan PT Jasa Marga. Pleno ini menghasilkan kesepakatan berupa pembentukan organisasi profesi di bidang transportasi yang deklarasinya ditandatangani oleh semua peserta. Sebagai tindak lanjut hasil pertemuan pleno kedua dan persiapan pembentukan organisasi seperti AD/ART, struktur organisasi dll. peserta pleno sepakat untuk membentuk sebuah tim lagi menggantikan tim sebelumnya. Tim ini karena beranggotakan sebelas orang, maka dinamakan Tim Sebelas yang diketuai oleh Soebagijo Soemadihardjo dari Departemen Perhubungan.

 

BACA SELENGKAPNYA …

Copyright © 2018 MASYARAKAT TRANSPORTASI INDONESIA · All rights reserved · created by Ratim