Meski Menyusahkan, BBG Akan Tetap Jadi Bahan Bakar Utama Transjakarta

Kejadian bus mogok maupun terbakar merupakan dua hal yang kerap terjadi dalam layanan bus transjakarta. Banyak kalangan yang menilai hal tersebut disebabkan penggunaan bahan bakar gas (BBG).

Mereka pun menyarankan agar bus-bus transjakarta kembali menggunakan solar sebagai bahan bakar utama. (Baca: Dua Faktor Ini Jadi Penyebab Bus Transjakarta Mudah Terbakar)

Meski demikian, PT Transjakarta menyatakan BBG akan tetap terus digunakan sebagai bahan bakar utama dalam operasional layanan bus transjakarta. “Untuk lingkungan yang lebih bersih tentu lebih bagus pakai gas,” ucap Direktur Utama PT Transjakarta Antonius Kosasih, di Jakarta, Selasa (14/7/2015).

Walau menyadari penggunaan BBG membuat tak maksimalnya layanan bus transjakarta, Kosasih mengaku telah melakukan sejumlah solusi untuk meminimalisir masalah-masalah terkait BBG yang selama ini membebani dalam operasional bus transjakarta. “Kita tidak mau ada masalah lagi,” ujar Kosasih.

Ia kemudian memaparkan solusi-solusi tersebut. Kosasih yakin dengan solusi itu ke depannya masalah-masalah klasik yang ada di dalam layanan bus transjakarta, dari sekedar mogok sampai yang terbakar, akan dapat diminimalisir dan hilang secara bertahap.

Berikut hal-hal yang ia paparkan:

• Membeli Bus Hemat Bahan Bakar

Kosasih menyadari jumlah stasiun bahan bakar gas (SPBG) di Jakarta masih sangat sedikit. Menurut dia, solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan membeli bus-bus berstandar internasional yang lebih hemat bahan bakar.

Ia kemudian menyontohkan bus bermerek Scania yang baru saja mereka beli. Menurut Kosasih, bus buatan pabrikan asal Swedia ini lebih hemat bahan bakar ketimbang bus-bus transjakarta dari merek lainnya.

“Bus Scania ini bahan bakarnya tetap gas, tapi mesinnya Euro 6. Satu hari cuma ngisi sekali. Kalau bus-bus lain bahan bakarnya 0,8-1 liter untuk 1 kilometer, Scania bisa 1,5-1,7 liter untuk 1 kilometer. Lebih efektif dan efisien,” ujar dia.

• Menggunakan Material Khusus

Selama ini bus-bus transjakarta menggunakan material yang sama dengan bus berbahan bakar solar. Hal inilah yang dinilai menjadi penyebab bus mudah terbakar. Sebab seharusnya material bus BBG berbeda dari bus berbahan bakar solar.

Terkait hal tersebut, Kosasih mengatakan bus-bus Scania yang baru saja mereka beli adalah bus yang telah menggunakan material khusus untuk bus BBG. Ia mengaku kerap melakukan pengecekan saat bus-bus masih dalam proses perakitan.

“Materialnya dapat sertifikat dari BASF. Saya pernah ke tempat perakitan. Saya ngetes jok dan karpet lantainya beneran tahan api enggak? Kita bakar, ternyata apinya mati sendiri,” ucap Kosasih.

Tidak hanya itu, ia juga menyebut kerangka yang digunakan oleh bus-bus Scania yang dioperasikan di Jakarta sama dengan bus-bus BBG yang dioperasikan di Inggris dan Australia. Hal tersebut tak lepas dari peran konsultan yang digandeng oleh rekanan PT Transjakarta, Indonesia Infrastructure Initiative (INDII).

“Kalau bus-bus yang lama saya tidak mau komentar ya, tapi untuk bus-bus yang baru dengan desain yang baru ini kami yakin sudah cocok. Konsultan yang digandeng INDII sudah pengalaman membuat bus-bus di banyak negara” tutur dia.

Kewajiban bus transjakarta menggunakan bahan bakar gas diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara ke DPRD DKI. Dalam pasal 20 ayat 1 perda tersebut disebutkan, angkutan umum dan kendaraan operasional Pemprov DKI wajib menggunakan bahan bakar gas sebagai upaya pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor.

Sumber Berita: Kompas.com, Rabu, 15 Juli 2015 | 07:01 WIB

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/07/15/07010081/Meski.Menyusahkan.BBG.Akan.Tetap.Jadi.Bahan.Bakar.Utama.Transjakarta

Leave a Reply


Copyright © 2018 MASYARAKAT TRANSPORTASI INDONESIA · All rights reserved · created by Ratim