Dua Faktor Ini Jadi Penyebab Bus Transjakarta Mudah Terbakar

Dalam diskusi bertema “Save Transjakarta Busway” pada Kamis (9/7/2015), Komisaris PT Transjakarta Muhammad Akbar memaparkan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab utama mudah terbakarnya bus transjakarta.

Akbar menyebut ada dua faktor yang menjadi penyebab utama bus berlajur khusus itu menjadi mudah dilalap api, yakni beban kerja yang berat dan rancangan khusus. Berikut pemaparannya:

• Beban Kerja Berat
Menurut Akbar, penyebab pertama yang membuat bus transjakarta mudah terbakar adalah beban kerja yang berat. Ia mengatakan, sampai dengan saat ini masih banyak bus transjakarta yang beroperasi non-stop dari pukul 05.00 hingga pukul 23.00. Hal tersebut, kata dia, tidak terjadi pada bus-bus kota reguler. “Jam kerjanya lebih banyak, beda dengan metromini,” ujar Akbar.

Jam kerja yang lebih banyak, lanjut dia, masih ditambah dengan kondisi bus yang seringkali mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Menurut Akbar, sebenarnya ada standar operasional prosedur yang mengharuskan petugas transjakarta melarang penumpang yang ada di halte masuk ke bus yang sudah penuh.

“Tapi petugas sulit melakukannya. Karena pas lihat udah banyak penumpang yang berjubel di halte dan memaksa masuk ke bus, mereka tidak kuasa menolak,” ucap Akbar.

Akbar melanjutkan, masih ada satu faktor lagi yang membuat beban kerja bus transjakarta lebih berat dari bus pada umum, yakni bahan bakar gas yang digunakan oleh bus transjakarta. Menurut Akbar, bus berbahan bakar gas memiliki bobot yang lebih berat ketimbang bus bermesin diesel yang berbahan bakar solar.

“Total ada sembilan tabung di bus gas. Ini menambah berat secara signifikan. Jadi beban busnya lebih berat ketimbang bus diesel,” ucap alumni Leeds University, Inggris ini.

• Rancangan Bus
Bus transjakarta adalah bus yang menggunakan bahan bakar gas dan memiliki lantai yang lebih tinggi dari bus kebanyakan. Akbar mengatakan, lantai bus yang lebih tinggi membuat letak tabung gas bus transjakarta mau tidak mau harus berada di bagian bawah. Hal ini berbeda dari bus-bus berbahan bakar gas yang digunakan di negara lain yang tabung gasnya berada di atas karena lantai bus yang rendah.

“Pada praktik internasional bus-bus berbahan bakar gas itu low deck (berlantai rendah) dan tabungnya di atas,” ujar dia.

Menurut Akbar, bahan bakar gas dan lantai yang lebih tinggi membuat bus transjakarta memiliki spesifikasi khusus yang tidak akan bisa ditemui di negara lain. Ia mengatakan dua hal tersebut membuat perakitan bus transjakarta harus melalui pemesanan khusus. Namun hal ini membuat riset mengenai rancangan bus transjakarta dipertanyakan.

“Karena pabrik mendesain khusus, kita tidak tahu risetnya. Selama ini juga belum pernah ada rancangan ideal untuk bus transjakarta. Jangan-jangan selama ini tidak pernah ada riset mengenai desain ideal untuk bus transjakarta,” duga Akbar.

Akbar mensinyalir selama ini proses perakitan bus transjakarta oleh perusahaan karoseri menggunakan material yang sama dengan bus pada umumnya. Kondisi ini yang ia duga membuat bus transjakarta menjadi mudah terbakar. Apalagi, ujar dia, sejauh ini dari sekian banyak peristiwa yang telah terjadi, sumber penyebab bus transjakarta mudah terbakar bukan bersumber dari mesin, melainkan dari komponen-komponen lainnya.

“Kalau sumbernya dari kabel atau maka hubungannya bukan ke mesin. Artinya bukan merek, tapi karoseri. Selama ini busnya mereknya memang beda-beda tapi karoserinya sama,” ucap Akbar.

• Solusi untuk Transjakarta
Akbar mengatakan, bila aturan mengenai lantai tinggi dan wajib berbahan bakar gas masih ingin tetap diterapkan, langkah pertama yang harus dilakukan untuk mencegah terulangnya peristiwa terbakarnya bus transjakarta adalah melakukan riset mengenai rancangan ideal untuk bus transjakarta.

Akbar berpendapat idealnya material yang dipakai dalam perakitan bus transjakarta adalah material yang berbeda dari bus pada umumnya. Ia menilai hal itu harus dilakukan walaupun konsekuensinya berdampak terhadap biaya perakitan yang lebih mahal.

“Perlu ada satu riset seperti apa desain yang pas untuk karoseri transjakarta. Dengan beban kerja yang cukup tinggi dan bobot yang lebih berat, desain harusnya beda dengan bus pada umumnya. Walaupun konsekuensinya membuat harganya jadi lebih mahal,” ujar Akbar.

Namun bila rekomendasi pertama tersebut dinilai sulit untuk dilakukan, Akbar menilai cara paling mudah adalah mengkonversi semua bus transjakarta menjadi menggunakan mesin diesel yang berbahan bakar solar. Menurut Akbar saat ini sudah banyak mesin diesel yang ramah terhadap lingkungan.

“Pada awal mula kemunculannya, transjakarta membawa misi mulia, yakni memperbaiki kualitas layanan angkutan umum dan jadi jangkar program pemerintah terkait konversi bahan bakar fosil ke gas. Tapi kalau misi mulia malah jadi beban, tentu tidak masalah kalau kembali menggunakan diesel,” papar Akbar.

Sumber Berita: Kompas.com, Sabtu, 11 Juli 2015 | 10:11 WIB

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/07/11/10114871/Dua.Faktor.Ini.Jadi.Penyebab.Bus.Transjakarta.Mudah.Terbakar

Leave a Reply


Copyright © 2018 MASYARAKAT TRANSPORTASI INDONESIA · All rights reserved · created by Ratim